NOBAR FILM NASIONALISME DI BANTARAN SUNGAI BENGAWAN SOLO, DALAM RANGKA MEMPERINGATI HARI SUMPAH PEMUDA YANG KE 89

Salah satu tonggak utama pergerakan kemerdekaan bangsa Indonesia adalah Sumpah Pemuda. Peristiwa ini dapat dimaknai sebagai momentum awal dari bulatnya tekad pemuda Indonesia untuk mengakhiri masa ketertindasan yang telah berjalan selama beratus-ratus tahun. Momen ini juga dapat diartikan sebagai titik kumpul dari perjuangan rakyat yang sebelumnya hanya berbasis kedaerahan dan kurang terkoordinasi.

Sesuai dengan nama “Sumpah Pemuda”, peristiwa ini merupakan sebuah momen ketika para pemuda Indonesia mengucapkan ikrar bahwa mereka bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu yaitu Indonesia. Ikrar ini merupakan kristalisasi dari semangat rakyat Indonesia yang diwakili oleh kaum pemuda untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan dan berdirinya Negara Indonesia.

Ikrar yang diucapkan pada tanggal 28 Oktober 1928 ini, kemudian selalu diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda. Makna peringatan ini bukan hanya sekadar upacara seremonial, melainkan juga bagaimana kita mampu memetik banyak pelajaran dan semangat dari sejarah Sumpah Pemuda.

Adapun teks sejarah Sumpah Pemuda ini adalah:
PERTAMA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Bertumpah Darah Yang Satu, Tanah Indonesia).
KEDOEA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Berbangsa Yang Satu, Bangsa Indonesia).
KETIGA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia).

Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda yang ke 89, kami Komunitas Relawan Independen Basecamp Sukoharjo membuat sebuah acara sederhana berupa “Nonton Bareng Film Nasionasilme Di Bantaran Sungai Bengawan Solo” yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 28 Oktober 2017 di Lapangan Voli Rt 01 Rw 06, Telukan, Grogol, Sukoharjo yang berada tepat dibantaran sungai bengawan solo. Adapun film yang kami tayangkan berjudul “Tanah Surga Katanya”. Antusias warga sangat tinggi, terbukti dari ramainya warga yang berdatangan walau kondisi sedang gerimis. Acara kami tutup dengan pembagian doorprize untuk anak-anak dengan memberikan beberapa pertanyaan seputar Ilmu Pengetahuan Nasionalisme.

Sedangkan film “Tanah Surga Katanya” merupakan film yang mengisahkan tentang bagaimana hilangnya rasa cinta akan negara kita, Negara Indonesia. Film ini diproduseri oleh Deddy Mizwar tahun 2012. Film ini menceritakan tentang rasa cinta seorang kakek terhadap indonesia. Kakek ini adalah seorang mantan sukarelawan Konfrontasi Indonesia Malaysia tahun 1965

Film yang mengangkat kejujuran atas realita yang ada. Film ini memberikan gambaran nyata hidup di Indonesia. Negeri dengan kaya akan sumber daya alam, tapi masih banyak warga negaranya yang menderita. Terlebih penduduk perbatasan Indonesia Malaysia.
Mereka tidak hafal dengan lagu Indonesia Raya, dan jarang yang memiliki bendera merah putih, karena disana sudah tidak pernah mengibarkan bendera merah putih lagi, mirisnya bendera kebanggaan kita itu justru dijadikan alas dagang warga yang berjualan dimalaysia.

Ada banyak nilai moral yang bisa kita ambil dari film ini. Salah satunya rasa cinta tanah air yang sangat mendalam, kita harus mencintai tanah kelahiran kita, tanah yang sudah membesarkan kita, karena rasa cinta tanah airlah yang bisa memajukan Indonesia. Selain rasa cinta tanah air, janganlah kita melupakan rasa kesatuan dan persatuan Indonesia, kita tidak boleh melupakan saudara kita yang tinggal wilayah perbatasan. Kita harus menjamah mereka, dan mengulurkan tangan untuk menolong mereka. Karena kita adalah Bangsa Indonesia.

“ Apapun yang terjadi. Jangan sampai kehilangan cinta pada Negeri ini ”

 

~MarselaKristiana