Karena kurangnya pengetahuan soal mitigasi serta memaknai arti dari setiap status yang telah di tentukan oleh pemerintah pusat,maka masyakarat lereng Kelud mudah sekali termakan oleh isu-isu tidak jelas. Di antaranya,isu mengenai letusan susulan dari Gunung Kelud,hal ini cukup membuat sebagian masyarakat panik. Di dorong oleh rasa panik serta isu-isu yang berkembang kian tidak jelas,maka sekitar 2 hari yang lalu,hampir mayoritas penduduk dari Kab.Kediri,Kab.Blitar dan Kab.Malang mengadakan yang namanya selamatan (baca:syukuran) untuk mengenang 40 hari pasca erupsi.

Bagi sebagian orang hal ini terlihat konyol dan naïf,tapi hal ini bias terjadi karena kurangnya pengetahuan dari beberapa orang yang dengan mudah termakan isu. Kalau pada awal-awal terjadinya erupsi orang-orang pada berbondong-bondong membeli masker maka kemarin orang-orang pada sibuk membeli bunga setaman,telur ayam kampong dan berupa-rupa jajanan pasar. Karena terjadi sentiment pasar yang begitu luar biasa akhirnya harga sebutir telur ayam kampong yang biasanya cuma seribu rupiah melonjak menjadi empat ribu rupiah,tetapi demi aksi menyelamatkan bumi (istilah orang-orang tersebut)maka berbagai carapun ditempuh.

Sebenarnya hal tersebut tidak perlu dilakukan jika masyarakat punya paling tidak sedikit tentang ilmu mitigasi serta pemahaman akan status dari Gunung Kelud itu sendiri,karena pada dasarnya pada waktu terjadi kehebohan selamatan 40 hari pasca meletusnya Kelud kemarin,sebenarnya status dari Gunung Kelud itu sendiri dalam keadaan Normal Waspada.

Hal ini tentu saja sangat mengherankan,terutama bagi penulis,karena bagaimanapun di sekitar Lereng Gunung Kelud itu sendiri sebenarnya pada tahun 2007 kemarin ada sebuah lembaga yang memprakarsai terbentuknya sebuah komunitas masyarakat yang nantinya diharapkan sebagai masyarakat tanggap bencana,akan tetapi pada kenyataannya selain kurang tanggap, masyarakat juga terbukti kurang Informasi,baik mengenai masalah mitigasi maupun informasi mengenai kegunungan,sungguh sangat di sayangkan bila terbukti benar kalau lembaga tersebut membentuk komunitas ini tidak secara sunggguh-sungguh. Seharusnya masyarakat jangan hanya dibentuk saja melainkan juga diberi pendampingan serta latihan-latihan supaya mereka benar-benar siap siaga menghadapi situasi-situasi seperti kemarin ataupun pasca erupsi,dan hal itu jangan dilakukan sekali dua kali tapi terus menerus secara berkala sampai masyarakat benar-benar mandiri dan siap siaga akan kebencanaan. Yah semoga hal ini bias dijadikan pembelajaran bersama. Dalam hal ini penulis pun harus banyak-banyak belajar terutama sering-sering melakukan search and research,supaya bias memberikan sedikit informasi pada pihak-pihak terkait agar isu-isu tak bertanggung jawab tersebut tidak semakin menyebar.